PENAJAM – Yayasan Praktis Praja menyampaikan keprihatinan terhadap kondisi habitat pekantan di kawasan Sungai Tunan khususnya di sepanjang Sungai Tunan, lokasinya berada di Kecamatan Waru, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU).
Dalam survei terbaru yang dilakukan oleh Yayasan Pakisbaja , tim menemukan bahwa populasi pekantan di wilayah tersebut ternyata cukup besar. Namun, kelangsungan hidup satwa ini terancam karena berkurangnya tanaman perpak yakni sejenis mangrove yang menjadi makanan utama mereka.
Dikatakan Pembina Yayasan Pakisbaja, Eric Maxey bahwa menurut catatan warga setempat, sekitar 30 tahun lalu Sungai Tunan dipenuhi oleh pohon perpak.
“Saat ini sebagian besar tanaman itu hilang akibat berbagai aktivitas manusia, seperti pembukaan lahan sawit, pembuatan kolam, gudang dan hal-hal lain,” ucap Eric, Minggu (30/11/2025).
Melihat kondisi tersebut, Yayasan Pakisbaja mengambil langkah penyelamatan habitat dengan memulai penanaman seribu pohon mangrove di bibir sungai. Program ini juga melibatkan kerja sama dengan Pertamina sebagai mitra utama dalam rehabilitasi lingkungan.
Disebutkan Eric, pada tanggal 6 Desember 2025 mendatang, sebanyak 200 pohon mangrove dijadwalkan untuk ditanam bersama para pemuda dari Girimukuri. Sebelumnya, bulan lalu, program serupa telah berhasil menanam hampir 300 pohon dengan dukungan komunitas dan warga setempat.
Yayasan Pakisbaja menargetkan kegiatan penanaman dilakukan setiap bulan, disertai monitoring rutin. Perkembangan pohon-pohon yang sudah ditanam akan didokumentasikan melalui foto dan dilaporkan secara berkala kepada Pertamina.
“Kami akan monitoring tiap bulan perkembangan pohon Mangrove tersebut,” ujarnya. (*)
Editor : Redaksi CB Media
Dapatkan breaking news dan berita pilihan langsung di ponselmu!
Gabung sekarang di WhatsApp Channel resmi Cahayaborneo.com:
https://whatsapp.com/channel/0029VaeJ8yD6GcGMHjr5Fk0D
Pastikan WhatsApp sudah terinstal, ya!







