Menu

Mode Gelap
Basuki Hadimuljono dan Jess Dutton Bahas Kolaborasi Infrastruktur Berkelanjutan untuk Ibu Kota Nusantara PUPR PPU Terkendala Pembangunan Infrastruktur di Wilayah Dekat IKN Jaga Kelestarian Lingkungan Lewat Penanaman Pohon di KIPP IKN Delegasi Sabah Kunjungi Ibu Kota Nusantara, Eksplorasi Potensi Investasi dan Kerja Sama Otorita IKN Terima Kunjungan Delegasi Pengusaha Rusia, Bahas Peluang Kerja Sama Pembangunan IKN PPU Hadapi Tantangan Ketenagakerjaan, Dorong Peningkatan Kapasitas

ADVERTORIAL DPRD PPU

Sawah Jadi Sawit, DPRD Minta Lahan Pertanian Diaktifkan Lagi

badge-check


					foto : Wakil Ketua Komisi II DPRD PPU, Sujiati, (Dok : CahayaBorneo/AJI) Perbesar

foto : Wakil Ketua Komisi II DPRD PPU, Sujiati, (Dok : CahayaBorneo/AJI)

PENAJAM— Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Penajam Paser Utara (PPU) menyoroti fenomena alih fungsi lahan pertanian yang masif menjadi perkebunan kelapa sawit di wilayah Benuo Taka. Data menunjukkan, 627 hektare lahan pertanian produktif kini telah berubah fungsi, sebuah kondisi yang memprihatinkan namun juga menunjukkan dilema ekonomi yang dihadapi para petani.

Wakil Ketua Komisi II DPRD PPU, Sujiati, mengungkapkan bahwa keputusan petani untuk beralih ke sawit bukan tanpa alasan. Krisis irigasi yang berkepanjangan dan harga gabah yang rendah di masa lalu menjadi pendorong utama.

“Waktu itu pengairan tidak ada, panen gabah juga tidak bagus, dan harganya belum seperti sekarang. Jadi petani merasa sawit lebih menjamin kesejahteraan mereka,” terang pada Kamis (22/5/2025).

Ketergantungan pada tadah hujan membuat banyak petani kesulitan mempertahankan sawah mereka saat musim kemarau atau saat panen tidak optimal.

Namun, kondisi saat ini telah berubah drastis. Harga gabah kini melonjak mencapai Rp6.500 per kilogram, sebuah momentum yang dinilai Sujiati harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Ia menegaskan pentingnya mengoptimalkan kembali lahan-lahan pertanian yang sempat terbengkalai atau belum sepenuhnya beralih fungsi.

“Saya sepakat lahan-lahan pertanian yang belum dialihfungsikan itu ditanami lagi. Dimaksimalkan semaksimal mungkin untuk tanam padi,” tegasnya.

Untuk mendukung petani kembali menanam padi, Sujiati juga menekankan perlunya pendekatan intensif melalui sosialisasi dan edukasi. Program ini diharapkan dapat menarik kembali minat petani yang sebelumnya beralih ke sektor lain untuk kembali menanam padi.

“Petani yang baru mau mulai lagi, perlu didekati dengan sosialisasi dan edukasi. Supaya mereka tahu peluang dari kenaikan harga gabah sekarang ini,” pungkasnya.

Pemerintah daerah dan instansi terkait diharapkan dapat bergerak cepat dalam mengatasi persoalan irigasi dan memberikan dukungan yang diperlukan agar lahan-lahan pertanian di PPU dapat kembali produktif, sekaligus memastikan ketahanan pangan di masa mendatang. (ADV/CB/AJI)

Reporter  : Aji Yudha

Editor       : Nanabq

Dapatkan breaking news dan berita pilihan langsung di ponselmu!
Gabung sekarang di WhatsApp Channel resmi Cahayaborneo.com:
https://whatsapp.com/channel/0029VaeJ8yD6GcGMHjr5Fk0D
Pastikan WhatsApp sudah terinstal, ya!

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Raperda APBD 2026 Disahkan, Bupati Mudyat Noor Tekankan Dampak Nyata bagi Masyarakat

30 November 2025 - 14:26 WITA

Kelurahan Nipah-Nipah Resmi Jadi Kelurahan Bersinar, PPU Perkuat Perang Melawan Narkoba

30 November 2025 - 14:18 WITA

RSUD RAPB Terapkan Kompensasi Layanan, Fraksi Gerindra Soroti Istilah “Teh Kotak” dalam SK Direktur

30 November 2025 - 14:16 WITA

APBD 2026 Senilai Rp1,48 Triliun, Turun Drastis Akibat Penurunan Dana Pusat

30 November 2025 - 12:32 WITA

Disdikpora PPU Bersiap Tempati Gedung Baru, Akhiri Era Kantor Nomaden

30 November 2025 - 11:41 WITA

Trending di ADVERTORIAL KOMINFO PPU