PENAJAM– Kabupaten Sekadau, Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) kembali menjadi saksi penguatan nilai-nilai kearifan lokal melalui acara Pengukuhan Mangkok Merah. Kehadiran tokoh akademisi Dr. Rendi Susiswo Ismail, didampingi istri, serta Dr. Indrayani, memberikan bobot tersendiri bagi acara adat yang sakral ini.
Kehadiran para tokoh tersebut tidak hanya sekadar memenuhi undangan seremonial. Momentum ini dimanfaatkan untuk mempertegas kembali posisi strategis masyarakat Kalimantan dalam peta pembangunan nasional, khususnya terkait perpindahan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara yang terus berjalan.
Dalam sesi diskusi bersama Bupati Sekadau, Dr. Rendi Susiswo Ismail memaparkan makna mendalam di balik simbol Mangkok Merah. Ia menegaskan bahwa Mangkok Merah bukan sekadar perangkat adat, melainkan representasi dari persatuan, keberanian, dan tanggung jawab sosial masyarakat Dayak dalam menjaga kedaulatan wilayah.
Lebih lanjut, Dr. Rendi menilai bahwa filosofi yang terkandung dalam Mangkok Merah sangat relevan dengan situasi Indonesia saat ini. Nilai-nilai keberanian dan harmoni tersebut dianggap sebagai fondasi penting bagi masyarakat dalam menghadapi transformasi besar yang dibawa oleh proyek IKN Nusantara.
Pembangunan IKN, menurut Dr. Rendi, harus dipandang sebagai sebuah “proyek peradaban,” bukan sekadar pembangunan infrastruktur fisik semata. Hal ini menuntut kesiapan mental dan budaya dari masyarakat lokal agar identitas mereka tetap terjaga di tengah modernisasi yang akan datang.
“Masyarakat Kalimantan diharapkan mampu mengambil peran sebagai tuan rumah yang proaktif. Dengan menekankan bahwa warga lokal harus menjadi penjaga nilai budaya dan lingkungan sekaligus menjadi aktor utama dalam pembangunan yang berkelanjutan di tanah Borneo,” ujar Bupati Sekadau, Dr. Rendi Susiswo pada Minggu, (29/3/2026).
Kolaborasi lintas sektor menjadi sorotan utama dalam pertemuan tersebut. Penting bagi pemerintah, tokoh adat, akademisi, hingga generasi muda untuk bersinergi agar kehadiran IKN tidak menggerus identitas lokal, namun justru menjadi panggung bagi budaya daerah untuk lebih dikenal.
Dr. Rendi secara tegas menyampaikan visinya bahwa masyarakat Kalimantan harus diposisikan sebagai subjek pembangunan. Dengan kapasitas yang terus ditingkatkan, masyarakat tidak boleh hanya menjadi penonton atau objek dari perubahan masif yang sedang dikerjakan oleh pemerintah pusat. Acara pengukuhan yang dihadiri oleh Raja Sekadau, tokoh adat, dan jajaran pemerintah daerah ini berlangsung dengan penuh khidmat.
“Kehadiran berbagai elemen masyarakat mencerminkan adanya komitmen kolektif untuk menyongsong masa depan Kalimantan sebagai pusat peradaban baru Indonesia tanpa meninggalkan akar budaya,” jelas Bupati Sekadau
Sebagai penutup, Dr. Rendi mengajak seluruh masyarakat untuk terus memupuk persatuan dan meningkatkan kualitas diri. Ia meyakini bahwa Kalimantan bukan sekadar lokasi geografis bagi IKN.
“Ini merupakan jantung masa depan bangsa yang akan membawa Indonesia menuju kemajuan yang tetap berakar pada kearifan lokal,” pungkas Bupati Sekadau. (*)
Penulis: Aji Yudha | Editor: Dian MS
Dapatkan breaking news dan berita pilihan langsung di ponselmu!
Gabung sekarang di WhatsApp Channel resmi Cahayaborneo.com:
https://whatsapp.com/channel/0029VaeJ8yD6GcGMHjr5Fk0D
Pastikan WhatsApp sudah terinstal, ya!
Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto milik CahayaBorneo.com dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta akan dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.







