PENAJAM – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur (Kaltim), di tengah kondisi cuaca kering yang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) PPU, Nurlaila, mengatakan total luasan lahan yang terbakar sepanjang 2026 masih berada pada kisaran puluhan hektare. Meski demikian, kondisi karhutla di daerah tersebut hingga saat ini masih relatif terkendali.
“Luasan yang terbakar di PPU itu masih sekitar puluhan hektare. Kita terus melakukan optimalisasi pencegahan dan penanganan secara kolaboratif,” kata Nurlaila, Senin (31/8/2026).
Menurut Nurlaila, kondisi karhutla di PPU tahun ini tergolong lebih terkendali jika dibandingkan dengan periode El Nino pada 2018 hingga 2023.
Ia menilai kondisi tersebut tidak terlepas dari berbagai upaya pencegahan, penanganan di lapangan hingga penegakan hukum terhadap aktivitas pembakaran lahan.
Penindakan yang dilakukan aparat kepolisian, menurutnya, juga memberikan efek pencegahan kepada masyarakat agar tidak sembarangan membuka lahan dengan cara membakar.
“Kalau kita bandingkan dengan tahun sebelumnya, kondisi sampai Juli kemarin masih sangat minim. Salah satunya karena ada penanganan dan penegakan hukum yang dilakukan teman-teman Polres PPU,” jelasnya.
Meski angka kejadian masih relatif terkendali, BPBD PPU tidak ingin masyarakat lengah. Kondisi kering dengan periode hari tanpa hujan yang cukup panjang tetap berpotensi memicu munculnya titik api.
Karena itu, pemantauan wilayah rawan kebakaran terus diperkuat, termasuk meningkatkan koordinasi antarinstansi dalam melakukan pencegahan maupun penanganan apabila ditemukan kebakaran.
Nurlaila juga mengingatkan adanya sejumlah kasus dugaan pembukaan lahan dengan cara dibakar yang telah masuk dalam proses penyelidikan Polres PPU sepanjang 2026.
BPBD meminta masyarakat, terutama mereka yang beraktivitas di sektor pertanian dan tambak, menghindari pembukaan lahan dengan metode pembakaran selama kondisi cuaca masih kering.
“Kalau kita tidak bisa mengontrol dan mengendalikan, kebakaran lahan akan berdampak secara keseluruhan. Bahkan bisa lebih merugikan orang lain,” tegasnya.
Nurlaila menjelaskan, kebakaran lahan tidak hanya menimbulkan kerugian terhadap lingkungan. Asap yang dihasilkan juga dapat mengganggu kesehatan masyarakat dan aktivitas sehari-hari.
Di sisi lain, proses pemadaman membutuhkan pengerahan personel, peralatan, waktu dan biaya. Petugas juga harus menghadapi kondisi berbahaya seperti suhu panas, api dan kepulan asap ketika melakukan penanganan di lapangan.
“Selain membutuhkan biaya, tenaga dan waktu dalam proses pemadaman, petugas juga harus berhadapan langsung dengan api, panas serta asap,” ujarnya.
BPBD PPU berharap kesadaran masyarakat menjadi bagian penting dalam menekan potensi karhutla. Pencegahan dinilai jauh lebih efektif dibandingkan menangani kebakaran setelah api terlanjur meluas.
“Kita minta masyarakat bersama-sama menjaga wilayahnya. Jangan melakukan pembakaran lahan yang tidak bisa dikontrol, karena dampaknya bukan hanya kepada pelaku, tetapi bisa merugikan masyarakat sekitar,” pungkas Nurlaila. (adv/cb)
Dapatkan breaking news dan berita pilihan langsung di ponselmu!
Gabung sekarang di WhatsApp Channel resmi Cahayaborneo.com:
https://whatsapp.com/channel/0029VaeJ8yD6GcGMHjr5Fk0D
Pastikan WhatsApp sudah terinstal, ya!