Lompat ke konten utama

Cahaya Borneo

PENAJAM – Ketersediaan air menjadi tantangan bagi petani di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) memasuki musim kemarau. Sejumlah lahan pertanian mulai mengalami kekeringan dan belum seluruhnya bisa dipersiapkan untuk kembali ditanami.

Kepala Dinas Pertanian (Distan) PPU, Rozihan Asward, mengatakan kondisi tersebut dapat berpengaruh terhadap produktivitas pertanian, khususnya bagi petani yang masih bergantung pada air hujan untuk mengairi sawah.

“Pasti ada penurunan hasil panen petani kita, apalagi kalau petani yang hanya mengandalkan tadah hujan,” kata Rozihan, Kamis (10/9/2026).

Menurutnya, pemerintah sebenarnya telah menyediakan pompa untuk membantu kebutuhan pengairan lahan pertanian. Kendalanya, keberadaan pompa belum banyak membantu ketika sumber air yang menjadi pasokan ikut menyusut akibat kemarau.

“Memang kita punya pompa, tetapi air yang mau dipompa tidak ada akibat kemarau. Jadi pompanya ada, cuma sumber airnya yang tidak tersedia,” jelasnya.

Meski mulai memengaruhi kondisi lahan, Rozihan menyebut dampak kemarau terhadap produksi pertanian PPU sejauh ini masih relatif terkendali. Salah satu faktornya karena mayoritas petani telah menyelesaikan masa panen pada Agustus lalu.

Panen tersebut juga dilakukan mengikuti imbauan Distan PPU agar petani menyesuaikan waktu tanam dengan kondisi ketersediaan air.

“Rata-rata petani kita sudah melakukan panen di Agustus kemarin. Memang agak lambat, tetapi sesuai dengan imbauan kita,” ujarnya.

Memasuki Oktober, aktivitas pertanian diperkirakan kembali meningkat. Petani mulai menyiapkan lahan untuk memasuki musim tanam padi secara bersamaan.

Namun, kondisi ketersediaan air di setiap wilayah PPU tidak sama. Sejumlah kawasan masih menghadapi keterbatasan air sehingga lahan pertanian belum seluruhnya bisa segera diolah.

Salah satu wilayah yang mulai bersiap melakukan penanaman adalah Saloloang. Kondisi sumber air di kawasan tersebut dinilai cukup mendukung, ditambah hujan yang mulai turun sehingga membantu memenuhi kebutuhan air persawahan.

“Kalau di Saloloang masuk musim tanam karena airnya bagus. Alhamdulillah, sekarang sudah ada turun hujan,” beber Rozihan.

Berbeda dengan Saloloang, sebagian petani di Kecamatan Babulu masih menunda penanaman padi. Mereka memanfaatkan lahan dengan menanam komoditas lain, seperti semangka, sembari menunggu musim tanam padi tiba.

“Kalau di Babulu juga sama, belum masuk musim tanam. Ada yang tanam semangka dan tanaman lainnya, jadi bukan tanam padi. Oktober baru mulai tanam,” pungkasnya. (adv/cb)

 

Editor: Redaksi CB Media

Dapatkan breaking news dan berita pilihan langsung di ponselmu!
Gabung sekarang di WhatsApp Channel resmi Cahayaborneo.com:
https://whatsapp.com/channel/0029VaeJ8yD6GcGMHjr5Fk0D 
Pastikan WhatsApp sudah terinstal, ya!

Tinggalkan Balasan