PENAJAM – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Penajam Paser Utara (PPU) menyiapkan strategi baru untuk menekan biaya distribusi pangan dengan menggabungkan pengiriman komoditas dari sejumlah pedagang dan distributor. Langkah ini diharapkan dapat memangkas biaya transportasi yang selama ini menjadi salah satu komponen harga pangan di tingkat konsumen.
Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten PPU, Hadi Saputro, mengatakan skema tersebut akan dilakukan melalui kerja sama program Manuntung, terutama untuk mendatangkan komoditas pangan dari luar daerah.
Menurutnya, Pemkab PPU telah mulai memetakan pedagang atau distributor yang selama ini mendatangkan komoditas pangan dari berbagai daerah, seperti Jawa, Sulawesi dan Sumatera.
“Program Manuntung itu sama. Kita bekerja sama untuk mendatangkan barang dari luar. Kami sudah mengidentifikasi beberapa pedagang atau distributor yang mendatangkan barang dari masing-masing daerah,” kata Hadi.
Dari pemetaan sementara, kata Hadi terdapat sejumlah pedagang yang mendatangkan komoditas dengan jumlah berbeda-beda. Misalnya, satu pedagang mendatangkan lima ton bawang, pedagang lainnya empat ton dari Sulawesi, sementara pedagang lain mendatangkan tujuh ton dari Jawa.
Kondisi tersebut dinilai belum efisien karena setiap pedagang melakukan pengiriman secara terpisah. Pemkab PPU kini mendorong agar pengiriman sejumlah pedagang dapat dikonsolidasikan dalam satu pengiriman.
“Ini mau kita buat supaya efisiensi transportasinya. Kita gabung mereka dalam satu pengiriman. Kita lihat di mana harga paling baik dan paling murah,” jelasnya.
Hadi menjelaskan, selama ini sebagian komoditas yang didatangkan dari luar daerah masuk terlebih dahulu ke Balikpapan. Barang kemudian dibongkar sebelum kembali dimuat untuk dikirim menuju PPU.
Rangkaian distribusi tersebut kata dia dinilai menambah biaya transportasi dan bongkar muat yang pada akhirnya dapat memengaruhi harga komoditas di tingkat konsumen.
Melalui konsolidasi pengiriman, Hadi mengatakan Pemkab PPU ingin barang yang sudah dihimpun dalam satu muatan dapat langsung dikirim menuju Penajam tanpa harus melalui proses bongkar muat di Balikpapan.
“Kalau sekarang masing-masing barang turunnya di Balikpapan, dibongkar, kemudian dimuat lagi dan dibawa ke Penajam. Nanti kalau bisa satu truk, satu komoditas, kita cari harga paling murah dari daerah asal dan dihitung biaya transportasinya,” ujarnya.
Menurut Hadi, skema tersebut tetap akan mempertimbangkan jarak, harga komoditas dan biaya angkut. Dengan demikian, daerah asal yang menawarkan harga paling kompetitif belum tentu menjadi pilihan jika biaya transportasinya justru lebih tinggi.
“Kalau secara perhitungan biaya masih masuk, kita satu truk itu tidak perlu bongkar di Balikpapan. Langsung masuk ke Penajam,” katanya.
Meski konsep tersebut telah disepakati, Hadi menyebut pelaksanaannya masih berada pada tahap pemetaan pedagang dan distributor yang akan dilibatkan.
Pemkab PPU saat ini terus mengidentifikasi pedagang yang mendatangkan berbagai komoditas dari luar daerah. Data sementara telah mencatat sekitar 14 pedagang, sementara pendataan di wilayah PPU masih terus dilakukan.
“Kemarin baru kita sepakati untuk melakukan hal itu. Sekarang masih dalam rangka pemetaan, pedagang mana saja,” ungkap Hadi.
Ia menambahkan, proses identifikasi pedagang di wilayah PPU ditargetkan segera dilakukan dalam beberapa hari ke depan.
“Teman-teman Perindagkop masih melakukan pendataan. Untuk yang di Penajam belum, sehingga mungkin dalam dua atau tiga hari ini akan kita identifikasi,” pungkasnya. (adv/cb)
Dapatkan breaking news dan berita pilihan langsung di ponselmu!
Gabung sekarang di WhatsApp Channel resmi Cahayaborneo.com:
https://whatsapp.com/channel/0029VaeJ8yD6GcGMHjr5Fk0D
Pastikan WhatsApp sudah terinstal, ya!