PENAJAM — Angka putus sekolah dan mahasiswa drop out (DO) di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mencatat jumlah yang mengkhawatirkan. Menurut data Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) setempat, sebanyak 1.401 anak dan mahasiswa tidak dapat melanjutkan pendidikan mereka terhitung sejak 22 Januari hingga 26 Agustus 2025. Data ini menunjukkan tantangan serius dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan di wilayah tersebut.
Jumlah 1.401 tersebut mencakup siswa dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Angka ini dikumpulkan oleh Disdikpora PPU dari data yang bersumber langsung dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).
Keterangan ini menegaskan bahwa permasalahan ini bukan hanya isu lokal, melainkan bagian dari gambaran yang lebih besar yang perlu perhatian serius.
Kepala Bidang PAUD dan Pendidikan Nonformal Disdikpora PPU, Durajat, menjelaskan bahwa data yang ada saat ini masih belum berubah signifikan. Pihaknya terus memantau dan memperbarui data, tetapi angka putus sekolah tetap berada pada level yang tinggi.
“Situasi ini memerlukan penanganan yang komprehensif dari berbagai pihak terkait, baik dari pemerintah maupun masyarakat,” ungkapnya pada Selasa (26/8/2025).
Lebih lanjut, Durajat merinci angka-angka yang membentuk total tersebut. Dari keseluruhan, 832 mahasiswa tercatat berhenti kuliah sebelum lulus. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah siswa yang putus sekolah.
Fenomena ini menunjukkan adanya kendala signifikan yang dihadapi oleh para mahasiswa dalam menyelesaikan studi mereka, yang bisa jadi terkait dengan faktor ekonomi, akademik, atau lainnya.
“Jumlah siswa yang putus sekolah dari jenjang SD hingga SMA mencapai 623 anak. Meskipun lebih rendah dari angka mahasiswa, jumlah ini tetap menjadi perhatian serius karena berdampak langsung pada masa depan anak-anak di usia produktif,” jelasnya.
Banyaknya siswa yang tidak dapat menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah mereka dapat menimbulkan berbagai masalah sosial di kemudian hari.
“Secara keseluruhan, jika data terbaru digabungkan, total anak putus sekolah dan mahasiswa drop out mencapai 1.455 orang,” imbuhnya.
Angka ini sedikit berbeda dari data awal, yang menurut Durajat merupakan hasil pembaruan harian. Perbedaan data ini menegaskan bahwa situasi ini dinamis dan memerlukan pemantauan yang berkelanjutan.
Durajat menambahkan bahwa temuan ini menjadi alarm bagi semua pihak untuk segera bertindak. Diperlukan sinergi antara pemerintah daerah, sekolah, orang tua, dan masyarakat untuk mencari solusi efektif.
Program-program pencegahan dan intervensi perlu diperkuat agar angka putus sekolah dan drop out dapat ditekan, sehingga setiap anak di PPU memiliki kesempatan yang sama untuk meraih pendidikan yang layak. (ADV Disdikpora/CB/AJI)
Reporter : Aji Yudha
Editor : Nanabq
Dapatkan breaking news dan berita pilihan langsung di ponselmu!
Gabung sekarang di WhatsApp Channel resmi Cahayaborneo.com:
https://whatsapp.com/channel/0029VaeJ8yD6GcGMHjr5Fk0D
Pastikan WhatsApp sudah terinstal, ya!