Menu

Mode Gelap
Basuki Hadimuljono dan Jess Dutton Bahas Kolaborasi Infrastruktur Berkelanjutan untuk Ibu Kota Nusantara PUPR PPU Terkendala Pembangunan Infrastruktur di Wilayah Dekat IKN Jaga Kelestarian Lingkungan Lewat Penanaman Pohon di KIPP IKN Delegasi Sabah Kunjungi Ibu Kota Nusantara, Eksplorasi Potensi Investasi dan Kerja Sama Otorita IKN Terima Kunjungan Delegasi Pengusaha Rusia, Bahas Peluang Kerja Sama Pembangunan IKN PPU Hadapi Tantangan Ketenagakerjaan, Dorong Peningkatan Kapasitas

OPINI

Membayar “Mahar” Politik dengan Air Mata Rakyat Kaltim

badge-check


					Foto: Demo di Kaltim memprotes Gubernur Kaltim. (Dok. Istimewa) Perbesar

Foto: Demo di Kaltim memprotes Gubernur Kaltim. (Dok. Istimewa)

Gelombang protes yang mengepung Kantor Gubernur Kalimantan Timur pada 21 April 2026 bukan sekadar kerumunan massa yang berteriak di bawah terik matahari. Ini adalah manifestasi dari “surat tagihan” yang datang lebih awal.

Rakyat mulai menyadari bahwa janji manis yang sempat terbeli dengan harga murah di bilik suara, kini harus dibayar mahal melalui postur APBD yang compang-camping dan jauh dari kata prorakyat.

Kita harus berani membedah anatomi anggaran kita. Apa yang terjadi di Kaltim saat ini pengadaan mobil dinas mewah seharga miliaran rupiah di tengah kebijakan penghapusan bantuan sosial bagi kaum disabilitas adalah bukti nyata dari Pesta Demokrasi yang Tergadai.

Ketika proses suksesi kepemimpinan dinodai oleh politik transaksional, maka APBD tidak lagi disusun sebagai instrumen kesejahteraan, melainkan sebagai alat pengembalian modal bagi para penyokong kekuasaan.

Sangat ironis melihat anggaran daerah yang bersumber dari keringat rakyat justru dialokasikan untuk memuaskan syahwat elitis. Pengadaan kendaraan mewah dan renovasi rumah jabatan yang menelan biaya puluhan miliar adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah publik.

Di saat warga di pelosok Mahakam kesulitan mengakses air bersih dan infrastruktur dasar, pemerintah justru mempertontonkan gaya hidup hedonis yang dibiayai oleh uang pajak. Inilah dampak nyata ketika APBD “disandera” untuk membayar hutang budi politik kepada kroni dan keluarga.

Penyebab amuk massa pada 21 April kemarin sangatlah benderang, matinya empati dalam penyusunan anggaran.

Sebagai insan pers, kita menangkap keresahan publik atas prioritas yang terbalik. Ketika jabatan strategis diisi berdasarkan kedekatan garis darah, maka nurani dalam mengelola uang rakyat otomatis sirna.

Kebijakan yang dihasilkan menjadi cacat logika, fasilitas kemewahan pejabat menjadi prioritas utama, sementara hak-hak dasar kelompok rentan dikorbankan tanpa rasa bersalah.

Tugas kita sekarang adalah mengedukasi masyarakat hingga ke tingkat keluarga. Kita harus mampu menjelaskan bahwa “uang serangan fajar” adalah akar dari keringnya kas daerah untuk kepentingan publik.

Kita harus menyadarkan keluarga kita bahwa setiap rupiah yang disalahgunakan untuk kemewahan pejabat adalah hak anak-anak kita yang dirampas, baik itu untuk sekolah, kesehatan, maupun lapangan kerja.

Gerakan rakyat di Samarinda adalah alarm keras. Pers tidak boleh hanya menjadi pemandu sorak kekuasaan. Kita harus konsisten berdiri sebagai benteng nurani publik yang teguh mengawasi setiap jengkal penggunaan APBD.

Demokrasi yang sehat harus memastikan bahwa setiap rupiah uang negara kembali ke kantong rakyat dalam bentuk layanan, bukan berakhir di garasi mewah para penguasa. Jika hari ini kita diam, maka kita sedang ikut serta merestui perampokan masa depan Bumi Etam secara legal melalui meja anggaran. (*)

 

Oleh: Sayyid Hasan, S.IP
(Ketua SMSI Penajam Paser Utara)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

FJPI Kaltim Ingatkan Gubernur: Pers Mitra Kritis, Bukan Ancaman

23 April 2026 - 14:43 WITA

Peringati Hari Bumi 2026, PT Pertamina EP Sangatta Field Gelar Aksi Penanaman Pohon dan Pengurangan Sampah Plastik

22 April 2026 - 15:37 WITA

Empat Jurnalis Jadi Korban Represi Saat Aksi 214, Koalisi Pers Kaltim: Halangi Kerja Pers Bisa Dipidana

22 April 2026 - 14:49 WITA

Hetifah Sjaifudian: Kemajuan Bangsa Dimulai dari Ruang Bagi Perempuan untuk Memimpin

22 April 2026 - 14:25 WITA

Proyek Manpatu Masuki Fase Krusial, Topside 1.000 Ton Berlayar ke Perairan Balikpapan

21 April 2026 - 21:44 WITA

Trending di KALTIM