Menu

Mode Gelap
Basuki Hadimuljono dan Jess Dutton Bahas Kolaborasi Infrastruktur Berkelanjutan untuk Ibu Kota Nusantara PUPR PPU Terkendala Pembangunan Infrastruktur di Wilayah Dekat IKN Jaga Kelestarian Lingkungan Lewat Penanaman Pohon di KIPP IKN Delegasi Sabah Kunjungi Ibu Kota Nusantara, Eksplorasi Potensi Investasi dan Kerja Sama Otorita IKN Terima Kunjungan Delegasi Pengusaha Rusia, Bahas Peluang Kerja Sama Pembangunan IKN PPU Hadapi Tantangan Ketenagakerjaan, Dorong Peningkatan Kapasitas

PERTANIAN

Petani PPU Keluhkan Minimnya Alat Mesin Pertanian Pascapanen

badge-check


					Foto : Kepala Distan PPU, Andi Trasodiharto, lada saat ditemui diruangannya, (Dok : CahayaBorneo/AJI). Perbesar

Foto : Kepala Distan PPU, Andi Trasodiharto, lada saat ditemui diruangannya, (Dok : CahayaBorneo/AJI).

PENAJAM – Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) melaporkan adanya gelombang keluhan dari para petani lokal terkait fasilitas pendukung produktivitas lahan. Keluhan utama yang disampaikan adalah minimnya ketersediaan alat mesin pertanian (alsintan) pascapanen yang sangat dibutuhkan di lapangan.

Kondisi ini diperparah dengan status alat-alat yang saat ini dimiliki oleh kelompok tani. Selain jumlahnya yang sangat terbatas, mayoritas alat yang tersedia dinilai sudah termakan usia dan sering mengalami kerusakan, sehingga para petani mendesak adanya pengadaan unit baru yang lebih modern.

Kepala Distan PPU, Andi Trasodiharto, mengungkapkan bahwa jenis alat yang paling krusial dibutuhkan saat ini adalah combine harvester (komben) dan alat pengering gabah.

Menurutnya, pemenuhan kebutuhan alusista ini merupakan kunci utama dalam menjaga kualitas hasil bumi para petani di wilayah tersebut.
Andi menilai, jika teknologi pascapanen ini tersedia secara memadai, maka nilai jual gabah akan lebih kompetitif.

“Jika alat-alat tersebut dimiliki secara ideal, kami optimistis kualitas hasil panen akan meningkat drastis dibandingkan dengan metode konvensional,”jelasnya pada Jumat (6/2/2026).

Berdasarkan data terkini, jumlah combine harvester yang masih dalam kondisi optimal dan beroperasi di wilayah PPU hanya berjumlah 25 unit. Jumlah ini dianggap sangat jauh dari kata cukup jika dibandingkan dengan total luas hamparan sawah yang harus ditangani setiap musimnya.

Secara teknis, satu unit komben mampu melayani pemanenan seluas empat hingga lima hektare per hari. Namun, karena luasnya lahan persawahan di PPU, Andi menekankan pentingnya pembentukan titik-titik sentra alat agar distribusi bantuan dan penggunaan mesin bisa lebih merata dan efektif.

Permasalahan serius muncul ketika masa panen raya tiba secara bersamaan di berbagai wilayah. Keterbatasan jumlah alat menyebabkan jadwal panen di beberapa titik menjadi terlambat.

“yang pada akhirnya berisiko menurunkan kualitas gabah untuk itu, pengadaan alat baru menjadi prioritas yang mendesak bagi keberlangsungan pangan di PPU,” pungkasnya. (*).
Reporter : Aji Yudha

Editor : Redaksi CB Media

Dapatkan breaking news dan berita pilihan langsung di ponselmu!
Gabung sekarang di WhatsApp Channel resmi Cahayaborneo.com:
https://whatsapp.com/channel/0029VaeJ8yD6GcGMHjr5Fk0D
Pastikan WhatsApp sudah terinstal, ya!

 

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Minta Kejelasan Pemprov, Abdul Waris Muin Tuntut Ruang Kelas Layak di PPU

6 Februari 2026 - 19:02 WITA

Penerapan Mulok Bahasa Paser di PPU Hadapi Kendala, Guru Minta Revisi Materi

5 Februari 2026 - 20:23 WITA

Setda PPU Musnahkan 21.006 Arsip Periode 2005-2014

5 Februari 2026 - 20:11 WITA

Komitmen Distan PPU Awasi Distribusi Pupuk Subsidi Demi Jaga Kualitas Gabah Petani

5 Februari 2026 - 13:42 WITA

Dongkrak Produksi Pangan, PPU Fokus Kembangkan Benih Padi Garuda

4 Februari 2026 - 19:05 WITA

Trending di PENAJAM PASER UTARA