PENAJAM– Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan KB (DP3AP2KB) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) resmi mengaktifkan kembali Tim Pendamping Keluarga (TPK).
Langkah ini diambil sebagai upaya memperkuat pengawasan kesehatan keluarga di seluruh wilayah PPU. Program yang sempat berjalan selama dua tahun ini kini dipacu kembali setelah sebelumnya mengalami kendala efektivitas.
Kepala DP3AP2KB PPU, Jansje Grace Makisurat, mengakui bahwa program TPK sempat mengalami hambatan komunikasi di tingkat lapangan. Masalah koordinasi tersebut menyebabkan target pendampingan tidak tercapai secara optimal. Untuk itu, pihaknya kini memulai kembali proses dari awal melalui sosialisasi intensif kepada para pemangku kepentingan (stakeholder).
“Reaktivasi program ini dilakukan secara berjenjang, dimulai dari koordinasi tingkat kabupaten hingga menjangkau tingkat kecamatan, desa, dan kelurahan. Tim yang terlibat terdiri dari kolaborasi kader PKK dan kader KB yang memiliki akses langsung ke masyarakat. Mereka bertugas memberikan pendampingan berkelanjutan bagi kelompok sasaran mulai dari remaja putri hingga balita,” jelasnya pada Kamis (23/4/2026).
Fokus utama dari TPK adalah melakukan pencegahan stunting dari sektor hulu. Tim memastikan bahwa setiap intervensi dasar dari pemerintah benar-benar diterima oleh keluarga yang membutuhkan.
Salah satu tugas krusial mereka adalah memantau secara langsung kepatuhan remaja putri dalam mengonsumsi tablet tambah darah guna mencegah risiko kesehatan di masa depan.
“Kalau dari kesehatan ada pemberian tablet tambah darah, kami memastikan itu benar-benar diminum,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa kepatuhan ini sangat penting untuk meminimalisir risiko pendarahan hebat saat persalinan serta menjaga kesehatan reproduksi sejak dini.
Selain intervensi kesehatan, DP3AP2KB juga memperluas jangkauan edukasi hingga ke lingkungan sekolah. Sosialisasi ini bertujuan untuk menekan angka pernikahan dini yang menjadi salah satu pemicu utama kasus stunting.
“Dengan pendampingan dan edukasi yang tepat, diharapkan masalah kesehatan ibu dan anak di lapangan dapat ditekan secara signifikan melalui sinergi antar sektor terkait,” imbuhnya. (*)
Penulis: Aji Yudha | Editor: Dian MS
Dapatkan breaking news dan berita pilihan langsung di ponselmu!
Gabung sekarang di WhatsApp Channel resmi Cahayaborneo.com:
https://whatsapp.com/channel/0029VaeJ8yD6GcGMHjr5Fk0D
Pastikan WhatsApp sudah terinstal, ya!







