Menu

Mode Gelap
Basuki Hadimuljono dan Jess Dutton Bahas Kolaborasi Infrastruktur Berkelanjutan untuk Ibu Kota Nusantara PUPR PPU Terkendala Pembangunan Infrastruktur di Wilayah Dekat IKN Jaga Kelestarian Lingkungan Lewat Penanaman Pohon di KIPP IKN Delegasi Sabah Kunjungi Ibu Kota Nusantara, Eksplorasi Potensi Investasi dan Kerja Sama Otorita IKN Terima Kunjungan Delegasi Pengusaha Rusia, Bahas Peluang Kerja Sama Pembangunan IKN PPU Hadapi Tantangan Ketenagakerjaan, Dorong Peningkatan Kapasitas

PENAJAM PASER UTARA

Gandeng Uniba, Petani Sawit di Babulu Kini Olah Limbah Jadi Pupuk Organik Bernilai Ekonomis

badge-check


					Foto : Commnity traning dan demontrasion plots, (Dok : Istimewa). Perbesar

Foto : Commnity traning dan demontrasion plots, (Dok : Istimewa).

PENAJAM– Universitas Balikpapan (Uniba) kembali mempertegas komitmennya dalam pengabdian masyarakat dengan menyasar para petani kelapa sawit di wilayah Kalimantan Timur. Langkah nyata ini diwujudkan melalui pelatihan intensif pembuatan pupuk organik dan penyusunan strategi pemasaran yang efektif.

Kegiatan strategis tersebut dipusatkan di Balai Desa Labangka, Kecamatan Babulu, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) pada Rabu (15/04/2026). Kehadiran akademisi ini disambut antusias oleh warga yang mayoritas menggantungkan hidup pada sektor perkebunan kelapa sawit.

Tidak tanggung-tanggung, Uniba menerjunkan dua pejabat terasnya sebagai narasumber utama. Mereka adalah Wakil Rektor II Bidang Keuangan dan Kewirausahaan, Dr. Indrayani, M.Pd., serta Wakil Rektor III Bidang Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Merry Krisdawati Sipahutar, Ph.D.

Acara ini juga dihadiri oleh Sekretaris Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten PPU, Khan, S.IP., serta jajaran pemerintahan desa setempat. Kehadiran tokoh daerah ini menunjukkan dukungan penuh pemerintah terhadap sinergi antara dunia pendidikan dan sektor pertanian.

Kepala Desa Labangka, Nasrudin, dalam sambutannya mengungkapkan apresiasi yang mendalam terhadap peran aktif Uniba. Ia menilai pendampingan dari perguruan tinggi sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di desanya.

“Kerja sama ini tercatat sebagai kolaborasi kedua antara Desa Labangka dan Uniba setelah sebelumnya sukses menggelar pelatihan UMKM bagi ibu-ibu PKK. Dengan harapan pelatihan kali ini mampu memberikan solusi konkret bagi petani dalam mengelola limbah kebun mereka sendiri,” ujar
Nasrudin pada Kamis (16/4/2026).

Senada dengan itu, Sekretaris Disdukcapil PPU, Khan, S.IP., menekankan pentingnya efisiensi biaya produksi di tengah fluktuasi harga sarana pertanian. Ia menilai penggunaan pupuk organik adalah kunci untuk mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia yang semakin mahal.

Dalam sesi teknis, Merry Krisdawati Sipahutar memaparkan potensi besar Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) yang selama ini sering terabaikan. Menurutnya, sekitar 20 hingga 23 persen dari setiap satu ton tandan buah segar merupakan limbah yang bisa diolah kembali.

“Jika sebuah kebun menghasilkan ratusan ton sawit, maka puluhan ton limbah organik siap diolah setiap harinya. Tanpa penanganan yang tepat, limbah ini berisiko mencemari lingkungan, namun di tangan yang tepat bisa menjadi peluang ekonomi baru,” terang Merry.

Selain aspek lingkungan, pelatihan ini bertujuan memperbaiki kesuburan struktur tanah yang sering rusak akibat penggunaan bahan kimia jangka panjang. Program ini diproyeksikan menjadi model percontohan bagi desa-desa lain di wilayah PPU.

Pada sesi berikutnya, Dr. Indrayani menyoroti pentingnya sisi bisnis melalui branding produk pupuk organik hasil olahan petani. Ia memperkenalkan konsep “Uniba EcoPalm Compost” sebagai contoh produk yang memiliki nilai jual tinggi di pasar ritel maupun industri.

Foto : Commnity traning dan demontrasion plots, (Dok : Istimewa).

“Produk berbasis riset akademik memiliki kepercayaan lebih tinggi di mata konsumen, dengan kemasan yang menarik dan strategi pemasaran yang tepat, pupuk ini diharapkan mampu mendukung konsep ekonomi sirkular bagi masyarakat desa,” tegas Dr Indrayani.

Sebagai penutup, kegiatan diakhiri dengan praktik langsung pembuatan pupuk melalui proses fermentasi menggunakan mikroorganisme lokal. Melalui keterampilan baru ini, petani diharapkan tidak hanya mampu memangkas biaya perawatan kebun, tetapi juga meningkatkan hasil panen secara berkelanjutan. (*)

Penulis: Aji Yudha | Editor: Dian MS

Dapatkan breaking news dan berita pilihan langsung di ponselmu!
Gabung sekarang di WhatsApp Channel resmi Cahayaborneo.com:
https://whatsapp.com/channel/0029VaeJ8yD6GcGMHjr5Fk0D
Pastikan WhatsApp sudah terinstal, ya!

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Pemkab PPU Perluas Zona Selamat Sekolah demi Tekan Risiko Kecelakaan

18 April 2026 - 18:03 WITA

Pemkab PPU Pastikan Stok BBM Aman dan Harga Stabil hingga Akhir 2026

18 April 2026 - 17:43 WITA

Pemkab PPU Rampungkan Review Utang Rp221 Miliar, Pembayaran Tunggu Kepastian Dana Pusat

18 April 2026 - 17:13 WITA

Polres PPU Gagalkan Peredaran Sabu di Kawasan IKN, Tiga Pengedar Diringkus

16 April 2026 - 12:45 WITA

Operasional Dermaga Speedboat PPU Masih Bebani Daerah Meski Aset Beralih ke Provinsi

16 April 2026 - 12:41 WITA

Trending di PENAJAM PASER UTARA