Menu

Mode Gelap
Basuki Hadimuljono dan Jess Dutton Bahas Kolaborasi Infrastruktur Berkelanjutan untuk Ibu Kota Nusantara PUPR PPU Terkendala Pembangunan Infrastruktur di Wilayah Dekat IKN Jaga Kelestarian Lingkungan Lewat Penanaman Pohon di KIPP IKN Delegasi Sabah Kunjungi Ibu Kota Nusantara, Eksplorasi Potensi Investasi dan Kerja Sama Otorita IKN Terima Kunjungan Delegasi Pengusaha Rusia, Bahas Peluang Kerja Sama Pembangunan IKN PPU Hadapi Tantangan Ketenagakerjaan, Dorong Peningkatan Kapasitas

PASER

Menelusuri Transformasi Besar Kesultanan Paser: Dulu Disegani, Kini Perlu Benah Diri

badge-check


					Foto : Pemakaman Kesultanan Paser, (Dok :  CahayaBorneo/AJI). Perbesar

Foto : Pemakaman Kesultanan Paser, (Dok : CahayaBorneo/AJI).

TANA PASER – Sejarah panjang peradaban di tanah Kalimantan Timur (Kaltim) menjadi perhatian melalui jejak Kesultanan Paser yang berpusat di Paser Belengkong. Wilayah yang kini menjadi salah satu kecamatan di Kabupaten Paser ini, memegang peran sangat krusial sebagai saksi bisu transformasi besar.

Berawal dari sebuah kerajaan pedalaman yang mandiri, kawasan ini sukses berkembang menjadi salah satu kekuatan kesultanan maritim Islam yang disegani pada masanya, sebelum akhirnya menghadapi dinamika politik akibat kolonialisme.

Jauh sebelum corak Islam melekat kuat, peradaban ini bermula dari Kerajaan Paser Purba yang didirikan sekitar awal abad ke-16, atau kisaran tahun 1516. Berdasarkan penuturan lisan dan manuskrip lokal, tampuk kepemimpinan pertama dipegang oleh seorang wanita bernama Putri Di Dalam Petung, dengan pusat pemerintahan yang awalnya terisolasi di pedalaman sekitar Sungai Telake, daerah Lempesu.

Garis keturunan raja-raja Paser berikutnya kemudian lahir setelah sang putri melakukan pernikahan politik dengan Abu Mansyur Indra Jaya, seorang bangsawan yang dipercaya berasal dari tanah Jawa atau kesultanan tetangga.
Arah sejarah pasang surut kerajaan ini berputar tajam memasuki abad ke-17 hingga ke-18 seiring menguatnya dakwah Islam yang dibawa oleh para ulama, termasuk Sayyid Ahmad Khairuddin.

Momentum perubahan besar terjadi pada tahun 1703 ketika Sultan Aji Muhammad Alamsyah dinobatkan sebagai Sultan Paser I, yang menandai runtuhnya sistem kerajaan lama dan lahirnya kesultanan Islam resmi. Di bawah kepemimpinannya, gelar penguasa berganti penuh menjadi “Sultan” dan hukum adat setempat mulai diintegrasikan secara harmonis dengan syariat Islam.

Demi merespons pesatnya jalur pelayaran komersial di pesisir Selat Makassar, pusat pemerintahan yang dinilai kurang strategis di pedalaman akhirnya digeser ke tepi Sungai Paser, tepatnya di Paser Belengkong. Keputusan besar yang diambil pada masa Sultan Ibrahim Khaliluddin ini berhasil menyulap wilayah baru tersebut menjadi pelabuhan dagang internasional yang ramai mengekspor rotan, damar, sarang burung walet, hingga emas.

Selain menjadi urat nadi perekonomian, Paser Belengkong juga menjelma sebagai pusat kebudayaan dan penyebaran agama Islam yang ditandai dengan megahnya istana serta rumah ibadah. Sayangnya, kejayaan maritim tersebut mulai goyah pada abad ke-19 akibat cengkeraman politik VOC dan Pemerintah Hindia Belanda yang memaksa penandatanganan perjanjian Korte Verklaring.

Kendati rakyat dan para bangsawan melancarkan perlawanan sengit lewat Perang Paser di awal abad ke-20, keunggulan persenjataan penjajah memaksa kesultanan ini runtuh secara de facto pada tahun 1906 pasca-penangkapan dan pengasingan Sultan Ibrahim Khaliluddin.

Kini, sisa kemegahan masa lalu tersebut masih tersimpan rapi dan dirawat dengan baik di Paser Belengkong melalui keberadaan Museum Sadurengas, Masjid Jami Nurul Ibadah yang berbahan kayu ulin, serta kompleks makam para sultan yang terus diziarahi masyarakat.

Dengan mendatangi langsung tempat pemakaman kesultanan, dan berbicara langsung oleh tokoh setempat banyak fakta yang terkuak dalam berdirinya kesultanan tersebut.

Kepala Desa (Kades) Paser Belengkong, Muhammad Subhan, menjelaskan dengan adanya pemakaman kesultanan ini, ia berharap agar Pemerintah Daerah (Pemda) Paser dapat mempercantik atau memperbagus tepatnya di depan museum Sadurengas, bekas Istana Kesultanan Paser di Paser Belengkong.

“Sekiranya mungkin dari Pemda Paser agar dapat mempercantik ikonnya saja, karena itu dipinggir sungai jadi kurang lebih panjangnya sampai 600 meter, ini juga sebagai penanda jika Paser memiliki museum yang bersejarah dalam kesultanan paser,” terangnya pada Minggu (24/5/2026).

Untuk itu dia berharap agar Pemda Paser dapat sekiranya membangun ikon tersebut, hal ini karena dari Pemerintah Desa(Pemdes) Pasir Belengkong sudah tidak bisa membangun karena keterbatasan anggaran dari Dana Desa (DD) imbas dari Efesiensi anggaran. Ia berharap, agar persoalan ini dapat dibantu oleh Pemda.

“Semoga ini secepatnya dapat diperbaiki, karena ini bisa menjadi harapan kita dari masyarakat Pasir Belengkong yang mendiami wilayah ini, agar dapat menjadi wilayah yang baik lagi kedepannya,” imbuhnya. (*)

Editor: Redaksi CB Media

Dapatkan breaking news dan berita pilihan langsung di ponselmu!
Gabung sekarang di WhatsApp Channel resmi Cahayaborneo.com:
https://whatsapp.com/channel/0029VaeJ8yD6GcGMHjr5Fk0D
Pastikan WhatsApp sudah terinstal, ya!

Facebook Comments Box
PERINGATAN:
Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto milik CahayaBorneo.com dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta akan dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Kondisi Jemaah Haji Paser Prima, Siap Jalani Puncak Ibadah Haji 1447 Hijriah

26 Mei 2026 - 14:11 WITA

Pemuda Fast 2026: Wadah Kreativitas dan Pelestarian Budaya Paser

26 Mei 2026 - 14:00 WITA

Polres Paser Gulung Sindikat Curanmor Lintas Kecamatan, 2 Pelaku dan 12 Motor Diamankan

25 Mei 2026 - 18:41 WITA

Aduan Voltage Drop Setahun Diabaikan, Warga Paser Belengkong Keluhkan PLN

22 Mei 2026 - 17:35 WITA

Kebakaran di Long Kali Paser Padam Setelah 2,5 Jam, Kerugian Ratusan Juta

22 Mei 2026 - 17:28 WITA

Trending di PASER