PENAJAM – Di balik seragam loreng dan jabatan strategis sebagai Komandan Kodim (Dandim) 0913/Penajam Paser Utara (PPU), tersimpan kisah perjuangan panjang Letkol Infanteri Fandy Satria Dwi Wahyuono yang penuh lika-liku kehidupan.
Tak banyak yang tahu, perwira TNI AD yang kini memimpin wilayah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN) itu pernah merasakan pahitnya kegagalan berulang kali sebelum akhirnya berhasil menggapai cita-cita menjadi seorang prajurit.
Lahir di Jombang, Jawa Timur, 21 September 1984, Fandy tumbuh dari keluarga sederhana. Sang ayah bekerja di Pabrik Gula Jombang Baru hingga dipercaya menjadi mandor, sementara ibunya merupakan ibu rumah tangga.
Kondisi ekonomi keluarga yang biasa-biasa saja justru membentuk karakter pantang menyerah dalam dirinya sejak kecil.
“Saya bukan berasal dari keluarga pejabat. Semua saya jalani dari bawah,” ungkap Fandy saat berbincang bersama media ini, Selasa (19/05/2026).
Impian menjadi tentara sudah tertanam sejak dirinya duduk di bangku sekolah. Namun jalan menuju cita-cita itu ternyata tidak mudah.
Usai lulus SMA tahun 2003, Fandy langsung mencoba mendaftar Akademi TNI. Hasilnya gagal. Ia kembali mencoba jalur Tamtama, namun kembali belum berhasil. Jalur Bintara pun bernasib sama.
Kegagalan demi kegagalan sempat membuatnya berpikir bahwa dirinya memang tidak ditakdirkan menjadi seorang tentara.
“Waktu itu saya sempat merasa mungkin memang bukan jalan saya di TNI,” kenangnya.
Tak berhenti di situ, ia juga pernah mencoba mendaftar sebagai anggota Polri melalui jalur Bintara di Mojokerto. Namun lagi-lagi hasilnya belum sesuai harapan.
Situasi itu membuat Fandy memilih merantau ke Jakarta dan tinggal bersama pamannya yang merupakan anggota TNI. Kehidupan disiplin di ibu kota perlahan mengubah pola pikirnya.
Tidak ada lagi kehidupan manja seperti saat tinggal bersama orang tua. Semua harus dijalani mandiri dan penuh aturan.
Saat pendaftaran Akmil kembali dibuka di Jakarta, Fandy mencoba lagi tanpa ekspektasi besar. Namun kali ini keberuntungan berpihak kepadanya.
Ia lolos seleksi tingkat daerah di Jakarta, wilayah yang dikenal memiliki persaingan sangat ketat.
Di masa itu, kehidupan Fandy benar-benar sederhana. Pamannya hanya memberinya uang Rp10 ribu untuk biaya transportasi mengikuti tes di kawasan Cijantung.
Lima ribu rupiah digunakan untuk berangkat dan sisanya untuk pulang.
Namun demi bisa memiliki uang jajan, ia memilih berjalan kaki dari Cibubur menuju lokasi tes.
“Kurang lebih hampir 25 kilometer saya jalan kaki supaya ada sisa uang buat beli roti dan minuman,” tuturnya sambil tersenyum mengenang masa lalu.
Menurutnya, pengalaman tersebut justru menjadi tempaan mental yang sangat berharga dalam hidupnya.
Setelah lulus pendidikan militer pada 2007 dari korps infanteri, karier Fandy terus ditempa melalui berbagai penugasan lapangan.
Tahun 2012, ia dipercaya menjaga perbatasan RI-Malaysia di Kalimantan Barat. Bersama pasukannya, ia harus memastikan patok batas negara tetap berada di wilayah Indonesia.
Tak hanya itu, pada 2015 ia juga mendapat kehormatan mengikuti misi perdamaian dunia di Lebanon Selatan selama satu tahun.
Di wilayah konflik tersebut, Fandy merasakan langsung situasi mencekam ketika ancaman serangan rudal terjadi.
“Kami pernah masuk bunker karena ada indikasi serangan,” ujarnya.
Pengalaman lain yang paling membentuk karakter kepemimpinannya terjadi saat bertugas di Papua pada 2019, tepatnya di Manokwari Selatan.
Kondisi alam yang berat, keterbatasan listrik dan internet, hingga kehidupan masyarakat di wilayah terpencil membuatnya belajar banyak tentang kesabaran dan pendekatan manusiawi.
“Kadang tiga hari tidak ada listrik. Tapi di sana saya belajar arti ketulusan dan bagaimana memahami masyarakat,” katanya.
Di luar tugas militer, Fandy dikenal sebagai pecinta motor trail. Hobinya itu kemudian berkembang menjadi kegiatan sosial setelah ia membentuk komunitas Mulawarman Trail Adventure (MTA) di Kalimantan Timur pada 2024.
Melalui komunitas tersebut, ia aktif menggelar bakti sosial, membersihkan kawasan wisata hingga sunatan massal bagi masyarakat.
Ia juga mengingatkan para penghobi trail agar tidak merusak kebun atau lahan warga saat melintas.
“Kegiatan hobi harus tetap membawa manfaat untuk masyarakat,” tegasnya.
Kini sebagai Dandim 0913/PPU, Fandy memegang tanggung jawab besar di tengah pembangunan Ibu Kota Nusantara.
Menurutnya, PPU memiliki posisi strategis sebagai wilayah penyangga IKN sehingga stabilitas daerah dan kesiapan masyarakat harus terus dijaga.
Ia pun aktif membangun komunikasi dengan pemerintah daerah, tokoh masyarakat hingga pemuda sejak pertama bertugas di PPU.
“Saya datang ke sini ingin memberikan dampak positif dan membangun kebersamaan,” katanya.
Fandy juga menaruh perhatian besar terhadap sektor ketahanan pangan di PPU. Menurutnya, daerah penyangga IKN harus memiliki kesiapan suplai pangan yang kuat untuk masa depan.
Karena itu, Babinsa di wilayah Kodim 0913/PPU terus didorong aktif mendampingi petani dan kelompok tani.
“Kami siap mendukung ketahanan pangan karena IKN nantinya membutuhkan dukungan daerah sekitar,” ujarnya.
Bagi Fandy, seorang pemimpin bukan hanya duduk di balik meja, tetapi harus siap hadir langsung di lapangan bersama anggotanya.
“Saya jadi komandan bukan untuk duduk santai. Yang paling penting adalah manfaat untuk masyarakat,” pungkasnya. (*)
Dapatkan breaking news dan berita pilihan langsung di ponselmu!
Gabung sekarang di WhatsApp Channel resmi Cahayaborneo.com:
https://whatsapp.com/channel/0029VaeJ8yD6GcGMHjr5Fk0D
Pastikan WhatsApp sudah terinstal, ya!
Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto milik CahayaBorneo.com dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta akan dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.







