PENAJAM– Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menyiapkan langkah penanganan darurat untuk memastikan ketersediaan air bersih bagi masyarakat di tengah musim kemarau yang diprediksi mencapai puncaknya pada September hingga Oktober 2026.
Direktur Perumda Air Minum Danum Taka, Abdul Rasyid, mengatakan penanganan kekeringan telah masuk dalam skema kerja satuan tugas (Satgas) penanggulangan bencana kekeringan yang dibentuk pemerintah daerah sekitar dua pekan lalu.
“Sudah dibentuk Satgas penanggulangan bencana kekeringan. Sasarannya bukan hanya kekurangan air bersih, tetapi juga kebakaran hutan dan bencana lain yang disebabkan kemarau,” ujar Abdul Rasyid, Jumat, (21/8/2026).
Satgas tersebut dipimpin Sekretaris Daerah (Sekda) PPU Tohar sebagai penanggung jawab, sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) PPU menjadi pelaksana. Dalam menjalankan tugasnya, BPBD akan didukung sejumlah instansi, di antaranya PDAM, Dinas Lingkungan Hidup, pemadam kebakaran, Pertamina, Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN), Balai Wilayah Sungai (BWS), serta pemangku kepentingan lainnya.
Menurut Abdul Rasyid, sinergi antarinstansi diperlukan untuk mengoptimalkan infrastruktur yang tersedia, terutama armada mobil tangki untuk mendistribusikan air bersih ke wilayah yang membutuhkan.
Untuk memenuhi kebutuhan air, Absul Rasyid menyebut sumber air baku akan diambil dari sejumlah titik, termasuk fasilitas PDAM, intake Sepaku milik OIKN, serta Bendungan Sepaku-Semoi yang dikelola BWS. Khusus wilayah Penajam, pengambilan air dilakukan melalui tiga titik, yakni Waru, Maridan, dan Sepaku.
Sementara itu, kondisi di sejumlah wilayah mulai menunjukkan dampak kemarau. Pelayanan air bersih di Sotek, misalnya, telah berhenti beroperasi selama dua hari akibat sumber air baku yang mulai mengering.
“Untuk Sotek dan Babulu memang kapasitasnya kecil. Sotek sudah dua hari tidak berfungsi karena embungnya sudah kering,” jelasnya.
Meski demikian, kondisi tersebut belum terjadi di seluruh wilayah pelayanan PDAM. Untuk kawasan Lawe-Lawe, Abdul Rasyid menyebut pasokan air masih berjalan meski terdapat kendala pada ketersediaan air baku.
“Untuk Lawe-Lawe memang mengalami kendala air baku, tetapi belum sampai tahap off. Masih ada cadangan air baku di embung-embung sekitar Lawe-Lawe,” katanya.
Cadangan tersebut antara lain berasal dari kolam dan embung milik Pertamina serta sejumlah bendungan di sekitar kawasan Lawe-Lawe. PDAM juga melakukan pemeliharaan aliran sungai dengan membersihkan berbagai hambatan untuk membantu menjaga ketersediaan air.
Di sisi lain, masyarakat yang membutuhkan bantuan air bersih diminta mengajukan permintaan melalui BPBD. Selanjutnya, BPBD akan mengoordinasikan pendistribusian air menggunakan mobil tangki sesuai kebutuhan di lapangan.
“Untuk masyarakat, sesuai arahan Pak Bupati dan Pak Wakil Bupati, bantuan akan dilakukan melalui BPBD. Permintaannya ditujukan kepada BPBD, kemudian BPBD yang mengoordinasikan bantuan mobil tangki,” terang Abdul Rasyid.
Ia menambahkan, jika kondisi kekeringan semakin parah hingga menyebabkan krisis air bersih, seluruh armada dan sumber daya yang tersedia akan dikerahkan untuk membantu masyarakat.
Namun, hingga saat ini sebagian besar wilayah masih mendapatkan aliran air sehingga belum terjadi gangguan signifikan secara menyeluruh.
“Kalau sampai betul-betul krisis, semua unit akan dikerahkan. Tapi tidak semua unit akan kering karena sampai hari ini masih ada yang mengalir,” pungkasnya. (*)
Dapatkan breaking news dan berita pilihan langsung di ponselmu!
Gabung sekarang di WhatsApp Channel resmi Cahayaborneo.com:
https://whatsapp.com/channel/0029VaeJ8yD6GcGMHjr5Fk0D
Pastikan WhatsApp sudah terinstal, ya!
Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto milik CahayaBorneo.com dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta akan dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.







